RACUN DAN VIRUS PULSAASMARA

Senin, 07 Mei 2012

Berbagai macam sarana komunikasi
dan transportasi diciptakan untuk
mempermudah segala urusan
kehidupan. Sehingga dunia laksana
satu daratan yang bisa dijangkau
dengan mudah dalam waktu sekejap
tanpa menisakan letih dan lelah.
Padahal enam puluh tahun yang lalu,
sarana komunikasi dan transportasi
masihlah minim. Segala sesuatu
ditempuh dengan waktu yangsangat
lama. Namun saat ini semuanya serba
instant. Hubungan jarak jauh bisa
dilakukan tanpa jeda waktu. Karena
komunikasi dan transportasi semakin
canggih serta teknologi semakin
mutakhir.
Namun yang harus diwaspadai, di
tengah gemerlapnya eksploitasi
teknologi dan gencarnya penjajahan
moral yang dilakukan para kapitalis,
terutama di negara-negara
berkembang dan negara-negara
Islam, maka semu pihak harus
mengetahui racun dan virus
berbahaya yang diselipkan dalam
kecanggihannya. Racun atau virus itu
sungguh mudah menjangkiti kita
semua. Apabila kita sudah merasakan
maka sendi-sendi moral kita lambat
laun akan rontok seperti ruas-ruas
jemari yang berjatuhan terkena lepra
ganas. Tapi seringkali penyakit yang
sangat berbahaya itu tidak nampak
karena mata kita terlalu silau oleh
kecanggihannya.
Saat teknologi telepon semakin
canggih, harga pesawat telepon dan
perangkat elektronik semakin murah,
serta jaringan pemasaran
distribusinya sudah merambah
hingga pelosok-pelosok daerah,
maka penyakit itu pun semakin rapat
mengepung kita.
Dengan teknologi handphone
berkamera, lahirnya fasilitas 3G,
chatting melalui internet dan
komputer berkamera, maka
hubungan langsung antara manusia
pun semakin menganga lebar.
Pembicaraan lewat media tersebut
seperti sudah tidak menyisakan sekat-
sekat lagi. Orang yang kita ajak bicara
sudah jelas terpampang di depan kita.
Apa yang ditampilkan di kamera, itulah
keadaan lawan bicara kita yang
sesungguhnya. Gambar si dia yang
sedang manja, senyumnya yang
menggoda, desah suaranya yang
membuat terlena, dapat dengan
mudahnya dinikmati dengan fasilitas
komunikasi semacam ini.
Maka ketika batasan moral sudah
semakin memudar dan hilang. Saat
pengawasan dari orant tua semakin
renggang, para pemuda dan pemudi
pun semakin leluasa berhubungan
dengan kamuflase teknologi tersebut.
Mereka dengan mudah membuat
janji berbicara mesra berkoodinasi
dengan pasangan untuk mengelabui
orang tua guna bertemu berdua
untuk khalwah elektronik.Sungguh
sangat mudah dilakukan dengan
memanfaatkan murahnya pulsa.
Lihatlah. Kita akan dengan mudah
menyaksikan apa yang dilakukan
kaum muda kita. Anak-anak sekolah
dengan penuh bangga da nbahagia
memanfaatkan fasilitas kecanggihan
HP terbaru. Tanpa sadar, mereka telah
terjebak. Virus dan racun telah
merasuki dirinya. Ia terus menjalar
dan menyerang benteng-benteng
keimanan.
Apabila ini yang terjadi, maka
sungguh kehancuran moral yang
senyata-nyatanya. Sehingga saat
pemuda dan pemudi sudah terjebak
dalam jeratan komunikasi yang
semacam ini, maka sangat susah
untuk melepaskan diri. Masih Nggak
percaya... Percayalah...Jangan coba-
coba!
Mereka sudah dapat merasakan
indahnya janji dan harapan,
hangatnya pembicaraan, mesranya
rayuan, serta manisnya pujian. Sukma
mereka pun serasa melayang-layang.
Pada akhirnya untuk terjerumus ke
dalam hubungan yang lebih gelap
akan dengan sangat mudah terjadi.
Akibatnya, dua sejoli yang tadinya
hanya membangun hubungan
dengan jaringan HP, telepon, atau
internet saling berjanji untuk bertemu.
Mereka tergoda untuk "mengenal
lebih dekat". Janji dan pertemuan pun
terjadi, awalnya dengan sembunyi-
sembunyi itu pun dilakukan di luar
rumah, pertemuan pertama
menyisakan rasa penasaran yang
menggelitik kalbu. Syetan pun tak
tinggal diam. Ia dengan gencar
menggoda untuk bertemu yang kedua
kali dan seterusnya. Bahkan dengan
terang-terangan datang/apel ke
rumah. Sebagaiman yang dikatakan
oleh seorang penyair:
Berawal dari pandangan, lalu
senyuman
Kemudian salam, disusul
pembicaraan
Lalu berakhir dengan janji dan
pertemuan.
Syetan dan iblis pun tertawa lebar.
Mereka terus mengipasi api asmara
yang sedang membara hingga
membakar keduanya. Kemudian
kedua sejoli terlena melanggar arena
terlarang dan menjamah sutra haram,
wal iyadzubillah . Akhirnya banyak
wanita remaja yang menjadi mangsa
panas asmara. Mereka benar-benar
menjadi korban permainan api cinta.
Anak-anak ABG, bahkan yang telah
dewasa sekalipun dengan mudah
terjebak dalam kubangan lumpur
kehinaan semacam ini. Apalagi kalau
sudah tidak memiliki filter agama yang
kuat. Maka pada ahirnya hubungan
bebas oleh dua pasangan yang belum
semestnya, semakin mudah
dilakukan. Akibatnya adalah aib,
kehormatan melayang, serta
suramnya masa depan.
Maka, wahai para pemuda dan
pemudi, para orang dewasa dan
orang tua, renungkanlah secara
mendalam akan bahaya dari racun
asmara dan virus pulsa serta khalwah
elektronik!
PENANGKAL RACUN DAN VIRUS
PULSA ASMARA
Berikut ini saya akan mencoba
memberikan beberapa solusi agar
racun da nvirus pulsa tidak mudah
menyerang diri kita dan keluarga. Ini
beberapa resep penangkalnya,
semoga dapat membantu kita:
1. Membentengi keluarga dengan
aqidah yang shahih dan akhlak mulia.
Jangan bosan dan menyerah untuk
mengajak keluarga menuntut ilmu
syar'i dan mengamalkannya.
2. Tanamkan kepada keluarga bahwa
pergaulan bebas adalah jerat-jerat
syetan yang bahaya da nkerugiannya
nyata di dunia, dan adapun di akhirat
akan mendapat adzab Allah yang
sangat pedih.
3. Para orang tua hendaknya bijaksana
dalam memenuhi peermintaan anak-
anaknya yang merengek minta
dibelikan HP atau komputer
multimedia. Karena dari dua media
tersebut sangat mudah virus-virus itu
menyebar. Gambar dan film porno,
komunikasi bebas, akan dengan
mudah didapatkan dan dijalin melalui
media ini.
4. Hendaknya mendampingi dan
mengawasi ketika anak menggunakan
jaringan internet.
5. Jangan letakkan komputer multimedia
di kamar pribadi anak. Usahakan
komputer diletakkan di ruang
keluarga yang mudah diawasi
penggunaannya.
6. Usahakan agar anak-anak tidak
memliki HP. Kalau si anak memang
perlu untuk dibawa keluar lebih baik
dipinjami milik orang tua.
7. Kalau memang harus membelikan HP
kepada anak maka hendaknya
dibelikan sesuai dengan kebutuhan
yang utama.
8. Para pemuda dan pemudi yang sudah
siap menikah, hendaknya bersegera.
Jangan ditunda! Jangan ciptakan
ruang untuk berpacaran.
9. Para orang tua hendaknya
mendukung keinginan anak-anaknya
yang menyatakan sudah sanggup
untuk menikah.
10. Mengawasi teman bergaul anak-anak
kita dan bersikap selektif dalam
memilihkan teman bergaul untuk
mereka. Jangan biarkan mereka keluar
rumah tanpa kontrol apalagi keluar
dengan teman lawan jenis.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Afifur Rohman © 2011 | Designed by Afifur