Mentalitas, FaktorKenyamanan Bersepedadi London

Senin, 07 Mei 2012

LONDON, KOMPAS.com - Jalanan
di London termasuk kecil-kecil,
sementara lalu-lintasnya cukup
padat. Namun, bersepeda di kota
ini tetap nyaman, karena
mentalitas masyarakatnya dalam
berlalu-lintas disiplin dan tertib.
Waktu menunjukkan pukul 07.30.
Di antara deru bus tingkat, mobil,
dan motor dalam ketergesaan
menuju aktivitas keseharian, para
pesepeda melaju. Di beberapa
sisi, ada jalur khusus sepeda.
Banyak pula jalan yang tak
memiliki jalur khusus sepeda.
Sehingga, para pesepeda berbaur
dengan mobil, bus, dan motor.
Sebab, jalanan di London
termasuk tak terlalu lebar.
Terkadang satu jalan hanya bisa
muat dua kendaraan.
Namun, bersepeda di kota ini
tetap terasa nyaman. Selain udara
di London yang lebih sering sejuk
dengan pemandangan kota yang
asri oleh bangunan-bangunan
kuno, mentalitas berlalu-lintas di
London sangat tertib dan disiplin.
Rambu lalu-lintas sangat
memadahi dan ditaati secara baik
oleh pengguna jalan, baik
kenadaraan roda empat, roda
dua, maupun para pejalan kaki.
Setiap lampu merah (traffic light)
memiliki fasilitas tanda buat
penyeberang.
Kendaraan lebih besar memiliki
toleransi tinggi kepada sepeda.
Bahkan, tak jarang bus atau mobil
memberi kesempatan kepada
pesepeda untuk berjalan.
Ditambah lagi, para pesepedanya
sendiri juga tertib dan disiplin
dalam berlalu-lintas. Sehingga,
kenyamanan bersama pun
tercipta, meski kepadatan lalu-
lintas sering terasa menyesakkan.
Wajar jika warga London semakin
banyak yang mengenakan sepeda
dalam beraktivitas kesehariannya,
baik pergi ke sekolah, belanja,
maupun pergi ke tempat kerja.
"Sepertinya makin banyak orang
bersepeda saat ini. Bahkan, sejak
2010 ada Barclay cycle Hire.
Sebuah penyewaan sepeda yang
pembayarannya menggunakan
kartu kredit. Barclay mengeluarkan
6000 sepeda yang ditaruh di 400
stasiun di seluruh London.
Bahkan, pemerintah London juga
mengkampanyekan penggunaan
sepeda. Mereka menargetkan
kenaikan penggunaan sepeda
sampai 400 persen dari 2008
sampai 2025. Untuk itu,
pemerintah akan terus berusaha
memperbaiki fasilitas bersepeda,
baik jalan khusus sampai temapt
parkir.
Bersepeda di Inggris sempat
meredup pada era 1960-an.
Namun, pada dasawarsa
berikutnya, bersepeda kembali
menggejala dan kini makin marak.
Ini tak lepas dari kesadaran
masyarakat bahwa kendaraan
bermotor semakin polutif, selain
juga tuntutan gaya hidup sehat,
juga pengiritan.
"Dalam kondisi sekarang,
bersepeda jauh lebih irit. Harga
BBM terus melambung.
Sementara, kemacetan semakin
sering. Sehingga, banyak orang
yang lebih suka bersepeda,
karena terkadang lebih cepat
sampai ke tujuan," jelas warga
London, Alex.
Catatan statistik pada 2008
menunjukkan, hampir 1 juta
penduduk London memiliki
sepeda. Dengan penduduk kota
yang sekitar 7 juta, maka jumlah
pemilik sepeda tergolong besar.
Hanya saja, baru 2 persen
perjalanan warga kota itu
menggunakan sepeda. London
masih kalah dari Cardiff (4,3
persen), York (18 persen), dan
Cambridge (28 persen).
Apalagi dibanding kota di negara
tetangga, tradisi bersepeda di
London masih kecil. Di Berlin,
Jerman, dari semua perjalanan
warganya, 13 persen di antaranya
dilakukan dengan sepeda.
Sementara Muenchen mencapai
15 persen, Kopenhagen 23
persen, Amsterdam 37 persen,
dan Groningen 57 persen.
Meski begitu, niat pemerintah
London menggalakkan bersepeda
tampaknya mendapat tanggapan
luas. Jika di Indonesia inisiatif
bersepeda datang dari
masyarakat, di London datang dari
dua belah pihak.
Bahkan, untuk memperbaiki
fasilitas sepeda baik jalur khusus
maupun tempat parkir, juga jalur
pedestrian, London menyiapkan
dana 400 juta pounds (sekitar Rp
5,9 triliun). Targetnya, satu dari 10
warga London nantinya
menggunakan sepeda dalam
aktivitasnya.
Saat ini, fasilitas pesepeda di
London mungkin belum
memadahi. Namun, mentalitas
berlalu-lintas di kota ini membuat
bersepeda sudah merasa
nyaman. Jika fasilitas semakin
membaik, maka tak menutup
kemungkinan London akan
didominasi sepeda.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Afifur Rohman © 2011 | Designed by Afifur